KPPLH Bumi Lestari Dorong Sekolah Kelola Sampah Bernilai Ekonomi
KBB – Komunitas Peduli Pendidikan Lingkungan Hidup (KPPLH) Bumi Lestari berencana meluncurkan program Infak Sampah Berkah di sekolah-sekolah. Program ini digagas untuk meningkatkan kepedulian pelajar terhadap lingkungan sekaligus mengoptimalkan nilai ekonomi sampah.
Melalui program tersebut, para siswa diajak membawa sampah yang dapat didaur ulang—baik dari rumah maupun lingkungan sekitar—untuk dikumpulkan di sekolah. Sampah yang terkumpul kemudian akan dikelola hingga bernilai jual.
Ketua KPPLH Bumi Lestari, Feri Haryanto Mulyana, mengatakan program ini bertujuan membangun karakter disiplin dan kepedulian lingkungan, sekaligus memberikan pemahaman bahwa sampah dapat bermanfaat jika dikelola dengan benar.
“Program ini memiliki nilai edukasi bahwa sampah bukan musibah, melainkan berkah yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat apabila dikelola secara benar,” ujar Feri, Jumat (31/7/2026).
Sebelum meluncurkan program tersebut, KPPLH Bumi Lestari telah mengedukasi pelajar mengenai pengelolaan sampah organik dan anorganik di dua sekolah Kabupaten Bandung Barat, yaitu SMKN 1 Cisarua dan SMAN 1 Cililin.
Feri menjelaskan, setiap jenis sampah—terutama plastik—memiliki nilai ekonomi. Hasil penjualan sampah yang terkumpul nantinya dapat dimanfaatkan sebagai kas sekolah maupun bantuan bagi siswa yang kurang mampu.
Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan program ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari kepala sekolah, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, Dinas Lingkungan Hidup, hingga Dinas Pendidikan.
“Selama ini kampanye pengelolaan sampah sudah sering dilakukan. Namun, jika hanya menjadi slogan tanpa implementasi nyata, persoalan sampah tidak akan pernah selesai,” tegasnya.
Ia menambahkan, program Infak Sampah Berkah tidak memerlukan anggaran pemerintah karena mampu menghasilkan modal mandiri dari sampah yang dikumpulkan. Menurutnya, kunci utama keberhasilan program ini adalah komitmen kepala sekolah, partisipasi siswa, serta dukungan pemerintah daerah.
KPPLH Bumi Lestari juga membuka peluang kerja sama dengan sekolah untuk memberikan edukasi sekaligus menyerap (membeli) sampah daur ulang dengan harga bersaing. Dengan begitu, manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh sekolah dan para peserta didik.
Feri berharap Pemerintah Kabupaten Bandung Barat dapat mendukung penerapan program ini di seluruh sekolah. Penyelesaian persoalan sampah menurutnya harus dimulai dari sumbernya (hulu), terutama sampah anorganik yang memerlukan penanganan khusus.
“Masalah sampah tidak akan selesai jika tidak ditangani dari hulunya. Sampah organik bisa kembali ke alam melalui pengomposan, sedangkan sampah plastik harus dikelola dengan baik karena berpotensi mencemari lingkungan dan berbahaya jika dibakar,” ungkapnya.
KPPLH Bumi Lestari sendiri telah bergerak secara mandiri sejak 2013 tanpa mengandalkan bantuan pemerintah. Komunitas ini tidak hanya berfokus pada edukasi, tetapi juga bertindak langsung dalam pengelolaan sampah sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap lingkungan. (Asted)