Dihujat Tak Tumbang, Dipuji Tak Terbang: Laku Sunyi Kang DS Menenun Asa Warga Bandung
BANDUNG – Di era ketika panggung politik kerap riuh oleh kepulan retorika dan gimik pencitraan, sebuah narasi kepemimpinan yang berbeda sedang ditulis di Kabupaten Bandung. Di sana, panggung tak dibangun dari kata-kata manis, melainkan dari deru mesin pembangunan dan jejak langkah yang membumi.
Sosok di balik cerita ini adalah Dr. H.M. Dadang Supriatna, S.I.P., M.Si.—pria yang akrab disapa Kang DS atau KDS oleh warganya. Pemimpin ini memilih jalur yang sepi dari sorotan lampu megah: ia memilih membiarkan hasil kerjanya yang bersuara.
Dari bentangan aspal mulus yang kini merambah ke pelosok desa, ruang-ruang Puskesmas yang kian responsif melayani warga, hingga senyum para petani di kaki gunung, napas kepemimpinannya terasa nyata tanpa perlu banyak bumbu drama.
Bagi Kang DS, Gedung Kompleks Pemkab Bandung di Soreang hanyalah sebuah alamat administratif. Meja kerjanya yang sebenarnya membentang sangat luas—melewati perbukitan Ciwidey, melintasi aliran sungai, hingga menjangkau pelosok Ciparay.
“Turun ke desa-desa, menyusuri jalan setapak, dan duduk sejajar menyimak keluh kesah warga bukanlah panggung pencitraan. Itu adalah cara untuk mendengarkan langsung denyut nadi serta detak jantung masyarakat Kabupaten Bandung.”
Di balik kesederhanaan pendekatan tersebut, tersimpan cetak biru besar bernama Bandung Bedas (Bangkit, Edukatif, Dinamis, Agamis, dan Sejahtera). Visi ini dirajut melalui tiga pilar strategis:
Pemerataan Infrastruktur yang Memanusiakan: Pembangunan jalan, jembatan, dan irigasi tidak dipandang sekadar proyek semen dan batu, melainkan urat nadi yang menghubungkan harapan ekonomi warga. Melalui program “Satu Miliar Satu Desa”, APBD dialirkan hingga ke sudut-sudut RT terjauh.
Investasi Tertinggi pada Manusia: Layanan kesehatan gratis yang memadai dan program beasiswa pendidikan masif menjadi prioritas utama. Bagi Kang DS, kemajuan fisik daerah akan menjadi cangkang kosong tanpa mencetak manusia yang sehat, cerdas, dan bermoral.
Menghidupkan Ekonomi dari Akar Rumput: Pembinaan UMKM agar naik kelas, penguatan koperasi desa, serta perlindungan pasar tradisional dijalankan secara konsisten. Strateginya jelas: memastikan roda perekonomian berputar deras dari bawah, bukan menumpuk di atas.
Setiap langkah perubahan besar tentu memicu gelombang. Kritik tajam, prasangka, hingga tuduhan miring tak jarang menghampiri. Namun, di tengah pusaran arus tersebut, di situlah kematangan karakter seorang pemimpin teruji.
Sebuah prinsip teguh yang menjadi kompas personalnya selalu ia pegang erat: “Dipuji tidak membuat terbang, dicaci tidak membuat tumbang.”
Prinsip ini bukan sekadar kalimat puitis untuk pemanis pidato, melainkan benteng moral. Kang DS enggan menghabiskan energi yang berharga hanya untuk membalas kebisingan polemik atau berdebat di ruang hampa. Seluruh perhatian dan daya ingatan ia curahkan untuk satu hal: menghadirkan solusi atas persoalan riil rakyatnya.
Zaman hari ini kerap mengagungkan bungkus dibanding isi, memuja impresi ketimbang substansi. Namun, Kang DS memilih untuk membalik logika tersebut. Wibawa seorang pemimpin, baginya, tidak ditentukan oleh kerasnya volume suara atau ramainya tagar di media sosial, melainkan dari jejak manfaat yang bertahan lama.
Kesederhanaan, kerendahan hati, dan keberanian untuk pasang badan di tengah kesulitan warga adalah investasi jangka panjang untuk merawat kepercayaan publik (public trust). Sebab pada akhirnya, karya nyata akan selalu bergema jauh lebih nyaring daripada seribu kata wacana.
Kabupaten Bandung adalah rumah bersama yang terhampar luas dengan segala potensi dan tantangannya. PR seperti pengentasan kemiskinan, penyempurnaan fasilitas publik, dan pemerataan ekonomi masih membutuhkan napas panjang.
Mewujudkan Kabupaten Bandung yang maju dan berdaya saing bukanlah panggung tunggal untuk seorang Kang DS. Ini adalah ikhtiar kolektif sebuah ikatan gotong royong antara pemerintah dan warga yang saling menjaga, mendukung, serta memberi kritik pembangun berlandaskan rasa cinta pada tanah kelahiran.
Di persimpangan masa depan ini, Kang DS telah menegaskan arahnya lewat kerja nyata. Kini, panggilan itu terbuka untuk kita semua: melangkah bersama merawat asa menuju Bandung yang Lebih Bedas. (As)