Jalan Utama Petani Sepanjang 1200 Meterembentang

LANGENSARI, SOLOKANJERUK — Kini Jalan usaha tani (JUT) sepanjang 1.200 meter dengan lebar 3 meter yang membentang gagah di kawasan persawahan tadah hujan Desa Langensari, Kecamatan Solokanjeruk, Kabupaten Bandung, bukan sekadar jalur penghubung biasa. Infrastruktur ini adalah urat nadi vital yang menopang ketahanan pangan lokal di tengah medan yang kerap menguji ketahanan fisik dan mental para petani.
Kepala Desa Langensari, Agus Kusumah, S.Ip., mengenang kembali bahwa jalan tersebut pertama kali dibangun pada kurun waktu 2014–2015 murni dari hasil swadaya masyarakat yang lelah bergelut dengan keterbatasan akses.
“Peletakan batu pertama pembangunan jalan usaha tani itu dilakukan pada masa kepemimpinan Bapak Bupati Bandung Dadang M. Naser, sekaligus meresmikan Jalan Muhamad Nur Desa Langensari,” ungkap Agus saat ditemui di Kantor Desa Langensari, Senin (31/8/2026).
Menurutnya, langkah berani Bupati Dadang M. Naser kala itu menjadi bentuk dukungan moral yang luar biasa besar terhadap gelora swadaya masyarakat yang peduli secara swadaya demi peningkatan infrastruktur di kawasan pertanian padi sawah tadah hujan.
Agus Kusumah menyatakan rasa apresiasi yang mendalam serta rasa hormat setinggi-tingginya melihat antusiasme luar biasa dari warga masyarakat yang rela berkorban demi masa depan bersama. Sebanyak 29 pemilik lahan dengan ikhlas menghibahkan tanah pribadi mereka seluas total 214 tumbak (di mana setiap 1 tumbak setara dengan 14 meter persegi).
“Sebelumnya, jalan usaha tani yang membentang di lahan pesawahan produktif ini hanyalah jalan pematang sawah yang sempit. Hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki dengan penuh kehati-hati. Namun sekarang, jalur ini sudah bisa dilewati kendaraan roda dua, roda empat bahkan pikup untuk mengangkut hasil produksi pertanian padi sawah pasca panen raya,” tuturnya penuh rasa syukur.
Kendati demikian, usia infrastruktur yang telah menginjak satu dekade lebih kini memunculkan persoalan baru yang mengkhawatirkan. Sejumlah titik permukaan jalan mulai retak dan mengalami penurunan kualitas yang menuntut perbaikan segera sebelum kerusakannya meluas dan melumpuhkan aktivitas distribusi.
“Demi mencegah kelumpuhan total jalur distribusi pangan, kami mengusulkan perbaikan kepada Bapak Dadang M. Naser, yang saat ini diamanahkan sebagai Anggota DPR RI, melalui jalur dana aspirasinya. Kami sangat berharap realisasi pengaspalan hotmix ini dapat segera dieksekusi,” tegas Agus.
Selain murni bersumber dari swadaya masyarakat yang heroik, pembangunan infrastruktur ini juga mencatat sejarah intervensi anggaran dari pemerintah melalui Dana Desa (DD) serta Bantuan Provinsi (Banprov). Bantuan pendanaan tersebut difokuskan secara bertahap untuk memperkuat fondasi jalan serta pengecoran rabat beton.
Termasuk di dalamnya adalah proyek pembangunan jembatan strategis yang diselesaikan menggunakan Anggaran Dana Desa dalam rentang tiga tahun anggaran, di mana pada tahun 2018 jembatan tersebut akhirnya rampung dan resmi dapat digunakan.
Keberadaan jalan usaha tani ini terbukti memberikan dampak positif yang masif, di antaranya memangkas jarak tempuh secara drastis bagi warga di RW 14 Kampung Tanggeung. Jika sebelumnya warga harus memutar jauh melewati wilayah Rancaekek dan Solokanjeruk saat hendak menuju kantor Desa Langensari, kini akses tersebut menjadi jauh lebih singkat dan terintegrasi langsung. Jalur ini kini sukses menghubungkan RW 12, RW 13, dan RW 14 dalam satu poros jalan tembus yang efisien.
Di balik kelegaan akses jalan, bayangan ancaman kekeringan akibat musim kemarau panjang tetap menghantui para petani. Mengantisipasi kondisi kritis ketika aliran Sungai Citarik yang selama ini menjadi tumpuan air baku lahan sawah mengering total, pihak desa mengambil langkah proaktif yang sangat mendesak.
Agus Kusumah mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengajukan usulan pembangunan dua titik Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) modern yang ditenagai oleh energi surya (solar cell) kepada Anggota DPR RI Dadang M. Naser.“Pembangunan JIAT di dua titik yang kami usulkan ini merupakan langkah penyelamatan darurat untuk mengantisipasi musim kemarau ketika Sungai Citarik tidak lagi mampu mengairi sawah tadah hujan. Kami berharap program JIAT ini benar-benar diprioritaskan untuk menyelamatkan lahan sawah tadah hujan di desa kami,” ujarnya.
Sebagai wujud komitmen penuh dan keseriusan pihak desa, Pemerintah Desa Langensari menyatakan kesiapan mutlak untuk menyediakan lahan seluas 100 meter persegi segera setelah anggaran aspirasi tersebut dikucurkan untuk pembangunan prasarana sarana pertanian vital ini. Langkah besar ini diyakini menjadi benteng terakhir penjaga ketahanan pangan nasional dari ancaman krisis yang nyata.(Atepku)