Wamen Viva Yoga Lepas TEP 2026 untuk Bangun Peradaban Transmigrasi
JAKARTA — Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 menjadi momen bersejarah sekaligus langkah nyata dalam mewujudkan pembangunan kawasan transmigrasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
“TEP 2026 mengirimkan sumber daya manusia unggul dan bertalenta ke kawasan transmigrasi guna mendorong aktivitas pembangunan, aksi nyata, dan menciptakan model pengembangan kawasan,” ujar Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, saat memberikan sambutan dalam acara Pelepasan TEP 2026 di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Sore itu, Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, secara resmi melepas 1.476 anggota TEP. Para peserta terdiri dari 39 guru besar, 158 doktor, 263 magister, dan 1.016 sarjana dari 10 perguruan tinggi terkemuka, yaitu UI, IPB, ITB, Universitas Padjadjaran, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, ITS, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.
Para anggota TEP tersebut disebar ke 53 kawasan transmigrasi yang mencakup 41 kawasan prioritas nasional, 10 kawasan prioritas Papua, dan 2 kawasan prioritas Kementerian Transmigrasi (Kementrans). Beberapa lokasi penempatan di antaranya Salor (Papua Selatan), Selaut (Aceh), Lunang Selaut dan Muara Takung-Kamang Baru (Sumatera Barat), Batu Betumpang (Bangka Belitung), serta Barelang (Kota Batam, Kepulauan Riau).
Seluruh anggota TEP dinyatakan telah lolos proses seleksi yang ketat dan terukur. Selama empat bulan, para sivitas akademika ini akan bertugas di kawasan yang telah ditentukan untuk mengimplementasikan hasil riset yang direkomendasikan oleh TEP 2025.
“Anggota TEP 2026 ditugaskan untuk menghasilkan model, prototipe, desain, dan pendampingan yang dapat langsung diterapkan di kawasan transmigrasi. Target utamanya adalah menciptakan rekomendasi kebijakan berbasis bukti lapangan yang aplikatif dan strategis guna mengembangkan kawasan serta memberdayakan masyarakat,” kata Viva Yoga.
Ia menegaskan bahwa fokus misi TEP tahun ini tidak lagi sekadar mengidentifikasi masalah, melainkan telah melangkah ke tahap penyelesaian masalah melalui implementasi program yang terukur dan berdampak langsung bagi masyarakat.
“TEP 2026 harus mampu menganalisis masalah sekaligus menghadirkan solusi,” tegasnya.
Para anggota TEP yang siap diberangkatkan ke berbagai kawasan transmigrasi ini didorong untuk menjadi bagian dari mata rantai perubahan demi masa depan Indonesia. Viva Yoga juga menyampaikan apresiasi kepada perguruan tinggi unggulan atas kerja sama dan koordinasi yang terjalin baik dengan Kementrans.
“Kami mengucapkan selamat bertugas, selamat jalan, bangun peradaban di kawasan transmigrasi, dan buktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat hadir sebagai solusi nyata bagi Indonesia,” tutur pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur tersebut.
Turut hadir dalam acara pelepasan ini, antara lain Ketua Komite Percepatan Pembangunan Papua, Velix Wanggai; Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T.; perwakilan rektorat dari sepuluh perguruan tinggi unggulan; serta anggota Komisi V DPR RI.