Normalisasi dan TPT Anak Sungai Cibintinu Jadi Obyek Program Pentahelix Kecamatan Pameungpeuk

Program Pentahelix Kecamatan Pameungpeuk
PAMEUNGPEUK – Pemerintah Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Bandung sudah melakukan action untuk menggerakkan potensi yang ada terkait pengerjaan normalisasi anak Sungai Cibintinu di Kampung Bojong Koneng Desa Bojongmangu dengan menggunakan peralatan yang seadanya.
Camat Pameungpeuk Agus Hindar Ruswanto, S.STP., M.Si., mengatakan pengerjaan normalisasi anak Sungai Cibintinu dengan strategi pentahelix ini bersinergi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Citarum dan Satgas Citarum Harum, serta unsur masyarakat terkait lainnya.
Di tengah semangat program pentahelix menindaklanjuti instruksi Bupati Bandung Dadang Supriatna itu, kata Camat Agus, para pelaku usaha atau pengusaha setempat masih slow respons atau masih landai-landai saja.
“Kami berharap dari para pengusaha di Kecamatan Pameungpeuk secepatnya ada kontribusi untuk optimalisasi program pentahelix normalisasi anak Sungai Cibintinu sepanjang sekitar 800 meter. Mumpung musim hujan belum turun,” tuturnya.
Berdasarkan informasi terakhir di lapangan, kata Camat Agus, dari pihak pengusaha sudah ada titik cerah, dan berharap action-nya dalam waktu dekat ini.
“Obyek program pentahelix aliran anak Sungai Cibintinu ini, tidak hanya melakukan pengerukan endapan sedimentasi. Juga ada bagian TPT (tembok penahan tanah) yang sudah mulai terlihat kurang stabil,” katanya.
Menurutnya, kebutuhan anggaran program pentahelix itu, yaitu untuk keperluan operasional alat berat back hoe. Sedangkan yang tidak bisa ditembus atau dijangkau alat berat melalui swadaya masyarakat.
“Kebutuhan anggaran juga untuk pembangunan TPT, sehingga dibutuhkan anggaran sekitar Rp300 juta. Baik untuk operasional alat berat, mempekerjakan tenaga kerja maupun pembangunan TPT,” ujarnya.
Menurutnya, pengerjaan normalisasi sungai dan TPT ini menjadi prioritas untuk mengurangi debit air atau genangan air.
Selain itu, lanjut Camat Agus, target jangka panjang dalam program pentahelix itu, yaitu peninggian jembatan di atas aliran sungai tersebut.
“Untuk pembangunan jembatan itu, berdasarkan RAB (rencana anggaran belanja) dari dinas terkait anggarannya bisa diangka Rp1 miliar,” ungkapnya.
Agus juga berharap partisipasi dan support-nya dari perusahaan-perusahaan yang ada di Kecamatan Pameungpeuk untuk mensukseskan program pentahelix.
“Walaupun mungkin area-area pentahelix tidak berdekatan dengan kawasan perusahaan, tetapi setidaknya saat terjadi banjir dan jalan tergenang, para pekerja yang bekerja di perusahaan tersebut akan terhambat juga. Termasuk yang masuk kantor juga akan terkendala,” tuturnya.
Oleh karena itu, Camat Agus menegaskan, bahwa program pentahelix ini selain berdasarkan perintah pimpinan, juga dalam regulasi sudah diatur.
“Bagaimana pihak perusahaan juga harus ada kontribusi terhadap lingkungan sekitar,” harapnya.
Lebih lanjut Agus mengatakan, program pentahelix ini tidak hanya dilaksanakan di wilayah Pameungpeuk saja. Tetapi juga dilaksanakan di kecamatan lainnya di Kabupaten Bandung.
“Jadi kami merasa malu, apabila tidak melaksanakan program pentahelix ini. Pertama targetnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu sulit. Kalau dibandingkan dengan rekan-rekan kecamatan lainnya, targetnya melebihi dari Kecamatan Pameungpeuk, tapi mereka bisa berjalan,” tuturnya. (Atepku)