Skip to content
Tatar Sunda News Tatar Sunda News Tatar Sunda News
Tatar Sunda News Tatar Sunda News Tatar Sunda News
  • Home
  • Redaksi
  • Nasional
  • Bandung Raya
  • Religi
  • Peristiwa
  • Lingkungan
  • Kesehatan
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Home
  • Redaksi
  • Nasional
  • Bandung Raya
  • Religi
  • Peristiwa
  • Lingkungan
  • Kesehatan
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Hukum
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Tatar Sunda News Tatar Sunda News Tatar Sunda News
Tatar Sunda News Tatar Sunda News Tatar Sunda News
  • Home
  • Redaksi
  • Nasional
  • Bandung Raya
  • Religi
  • Peristiwa
  • Lingkungan
  • Kesehatan
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Home
  • Redaksi
  • Nasional
  • Bandung Raya
  • Religi
  • Peristiwa
  • Lingkungan
  • Kesehatan
  • Sosial
  • Pendidikan
  • Hukum
Close

Search

Trending Now:
5 Essential Tools Every Blogger Should Use Music Trends That Will Dominate This Year ChatGPT prompts – AI content & image creation trend Ghibli trend – viral anime-style visual trend
  • https://www.facebook.com/
  • https://twitter.com/
  • https://t.me/
  • https://www.instagram.com/
  • https://youtube.com/
Subscribe
Home/Politik/Krisis Iklim dan Ketahanan Pangan
Politik

Krisis Iklim dan Ketahanan Pangan

By Sintia Fitria
September 11, 2026 4 Min Read
0

Oleh : H.Tarya Witarsa

(Ketua Fraksi PKB DPRD Kabupaten Bandung)

Kita sering membicarakan ketahanan pangan dari meja makan: apakah beras tersedia, apakah harga terjangkau, dan apakah stok nasional mencukupi. Namun, jarang kita bertanya dari mana ketahanan itu sesungguhnya dimulai. Di tengah perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi, jawabannya mungkin bukan hanya di lumbung pangan, melainkan jauh di hulu: pada air yang mengalir ke sawah.

Agustus 2026 menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar persoalan angka dalam laporan ilmiah. Suhu global tercatat lebih dari 1,6 derajat Celsius di atas periode pembanding yang digunakan dalam berbagai analisis iklim, sementara fenomena El Nino turut memperbesar risiko panas dan kekeringan. Europe Climate Service juga mencatat Agustus 2026 sebagai periode dengan suhu yang sangat ekstrem, bahkan melampaui panas Juli 2023.

Bagi masyarakat perkotaan, perubahan suhu mungkin hanya terasa sebagai udara yang semakin menyengat. Bagi petani, persoalannya jauh lebih konkret. Musim tanam menjadi sulit diprediksi, sumber air menyusut, dan tanaman yang telah ditanam menghadapi ancaman kekeringan. Pada titik tertentu, perubahan iklim tidak lagi berbicara tentang masa depan, tetapi tentang apakah panen berikutnya dapat diselamatkan.

Padahal, kebutuhan pangan terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi beras nasional pada Januari-April 2026 mencapai 14,03 juta ton, meningkat sekitar 16.810 ton atau 0,12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 14,01 juta ton. Angka ini menunjukkan kemampuan produksi nasional yang tetap terjaga. Namun, peningkatan tersebut tidak boleh membuat kita abai terhadap ancaman yang berada di depan mata.

Penelitian Krisis Global dan Implikasinya bagi Pertanian Indonesia: Perubahan Iklim, Konflik Geopolitik, dan Spekulasi Pasar (2025) menunjukkan bahwa perubahan iklim memperbesar ketidakpastian musim tanam sekaligus meningkatkan risiko gagal panen. Dengan demikian, menjaga ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan mengejar peningkatan produksi. Kita juga perlu memastikan fondasi produksi, terutama ketersediaan air, tetap bekerja ketika iklim tidak lagi bersahabat.

*Ketika Kekeringan Menguji Ketahanan Pangan*

Gambaran tersebut terlihat di Kabupaten Bandung. Kekeringan dan kemarau telah memberikan tekanan terhadap lahan pertanian di sejumlah wilayah, termasuk Rancaekek dan Cileunyi. Data Dinas Pertanian Kabupaten Bandung mencatat sekitar 748 hektare lahan terdampak kekeringan di 14 kecamatan. Angka itu bukan sekadar statistik. Di balik setiap hektare terdapat biaya produksi, tenaga petani, dan harapan terhadap hasil panen.

Karena itu, salah satu pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian lebih serius adalah irigasi. Saluran air mungkin terlihat sebagai infrastruktur sederhana, tetapi bagi pertanian ia merupakan urat nadi produksi. Ketika saluran rusak, sedimentasi menumpuk, distribusi air tidak merata, atau jaringan tidak mampu menjangkau lahan pertanian secara optimal, produktivitas akan ikut terpengaruh.

Perbaikan irigasi tentu tidak dapat dibebankan hanya kepada satu tingkat pemerintahan. Pemerintah pusat perlu menetapkan arah kebijakan dan prioritas berdasarkan peta kerentanan iklim serta wilayah yang memiliki risiko kekeringan tinggi. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi tidak semata-mata didasarkan pada usulan sektoral, tetapi ditempatkan sebagai bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim dan ketahanan pangan.

Pemerintah daerah kemudian memiliki peran penting untuk menerjemahkan kebijakan tersebut sesuai kondisi lapangan. Kabupaten Bandung, misalnya, memiliki ratusan titik jaringan irigasi yang membutuhkan penguatan. Data yang tersedia menyebutkan sekitar 547 titik irigasi perlu mendapat perhatian dari sisi infrastruktur pertanian, khususnya saluran air. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa membangun ketahanan pangan bukan proyek sesaat, melainkan pekerjaan infrastruktur yang membutuhkan perencanaan berkelanjutan.

*Dari Kebijakan Hulu ke Gotong Royong di Hilir*

Namun, pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian. Irigasi pada akhirnya adalah ruang bersama. Saluran yang telah diperbaiki tidak akan bertahan apabila tidak dirawat, sementara distribusi air akan menghadapi persoalan apabila setiap pihak hanya memikirkan kepentingannya sendiri. Karena itu, keterlibatan kelompok tani, masyarakat, pemerintah desa, dunia usaha, akademisi, hingga organisasi masyarakat menjadi penting.

Pengalaman pengelolaan air melalui pendekatan pentahelix di sejumlah wilayah Kabupaten Bandung dapat menjadi salah satu contoh bahwa persoalan irigasi dapat didekati melalui gotong royong. Pemerintah menyediakan kebijakan dan dukungan anggaran, masyarakat ikut menjaga dan merawat, kelompok tani memastikan pemanfaatan berjalan adil, sementara perguruan tinggi dan pihak lain dapat memberikan dukungan pengetahuan serta inovasi.

Pandangan Karl August Wittfogel dalam Oriental Despotism (1957) memberikan perspektif menarik. Ia melihat pembangunan jaringan irigasi berskala besar dalam masyarakat agraris sebagai salah satu faktor yang mendorong lahirnya sistem pemerintahan yang terorganisasi dan birokratis. Terlepas dari perdebatan terhadap tesis tersebut, satu pelajaran penting dapat ditarik: sepanjang sejarah, pengelolaan air selalu berkaitan erat dengan kemampuan masyarakat mengelola pangan dan kehidupan bersama.

Dalam konteks Indonesia hari ini, pelajarannya bukan tentang penguasaan air oleh negara, melainkan tentang pentingnya tata kelola air yang kuat. Negara perlu hadir memastikan kebijakan, anggaran, dan infrastruktur berada pada jalur yang tepat. Namun, kekuatan negara harus bertemu dengan partisipasi masyarakat agar infrastruktur tersebut benar-benar hidup dan terawat.

Ketahanan pangan karena itu tidak boleh berhenti pada target produksi. Ia harus dimulai dari kemampuan kita mengantisipasi kekeringan, memperbaiki irigasi, menjaga sumber air, dan membangun tata kelola yang mampu menghadapi perubahan iklim. Hulu membutuhkan keberanian kebijakan, sedangkan hilir membutuhkan gotong royong.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang ketahanan pangan bukan hanya apakah beras kita cukup untuk hari ini. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita telah memastikan air yang menghidupi sawah masih tersedia untuk musim tanam berikutnya. Sebab ketika iklim semakin tidak pasti, menjaga air berarti menjaga kemungkinan kita untuk tetap memiliki pangan.(Atepku)

Tags:

Ketua Fraksi PKB Kabupaten Bandung Tarya Witarsa
Author

Sintia Fitria

Follow Me
Other Articles
Previous

Viral, Jadi Sorotan Bupati Dadang Supriatna Masuk Got Irigasi Demi Atasi Banjir

No Comment! Be the first one.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recent Posts

  • Krisis Iklim dan Ketahanan Pangan
  • Viral, Jadi Sorotan Bupati Dadang Supriatna Masuk Got Irigasi Demi Atasi Banjir
  • Scale Up Wirausaha Muda: Dispora Hadirkan Pembelajaran Inspiratif dan Aplikatif melalui Batch Affiliator dan Membatik
  • Pemkab Bandung Siapkan Kontrakan dan Bangun Kembali Rumah Korban Kebakaran di Pacet
  • BUPATI Bandung di Dampingi Camat Mamet Slamet Ajak Warga yang Rumahnya Dekat Bantaran Sungai Tingkatkan Kesiapsiagaan 

Recent Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Archives

  • September 2026
  • Agustus 2026
  • Juli 2026
  • Oktober 2025
  • September 2025

Categories

  • Bandung Raya
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Kesehatan
  • Lingkungan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Politik
  • Religi
  • Sosial
  • Warta Desa
Hey, I’m Alex. I build frontend experiences and dive into tech, business, and wellness.
  • X
  • Instagram
  • Facebook
  • YouTube
Work Experience

Velora Labs

Frontend Developer

2021-present

Luxora Digital

Web Developer

2019-2021

Averion Studio

Support Specialist

2017-2019

Available for Hire
Get In Touch

Recent Posts

  • Krisis Iklim dan Ketahanan Pangan
    oleh Sintia Fitria
    September 11, 2026
  • The Hidden Potential of Bitcoin
    oleh sigmacreativeindonesia@gmail.com
    September 30, 2025
  • Kickstart Your Blogging Journey Today
    oleh sigmacreativeindonesia@gmail.com
    September 30, 2025
  • Morning Routines That Boost Your Productivity
    oleh sigmacreativeindonesia@gmail.com
    Oktober 1, 2025

Search...

Technologies

Figma

Collaborate and design interfaces in real-time.

Notion

Organize, track, and collaborate on projects easily.

DaVinci Resolve 20

Professional video and graphic editing tool.

Illustrator

Create precise vector graphics and illustrations.

Photoshop

Professional image and graphic editing tool.

Welcome to the ultimate source for fresh perspectives! Explore curated content to enlighten, entertain and engage global readers.

  • Facebook
  • X
  • Instagram
  • LinkedIn

Latest Posts

  • Wujudkan Desa Tangguh Bencana, BPBD Kabupaten Bandung Prioritaskan Kelompok Rentan
    SOREANG – Pemerintah Kabupaten Bandung melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah… Read more: Wujudkan Desa Tangguh Bencana, BPBD Kabupaten Bandung Prioritaskan Kelompok Rentan
  • Warga Nenggeng Gotong Royong Padamkan Kebakaran, Camat Nagreg Beri Apresiasi
    ​NAGREG — Camat Nagreg, H. Perdana Firmansyah, S.STP., M.Si., menyampaikan… Read more: Warga Nenggeng Gotong Royong Padamkan Kebakaran, Camat Nagreg Beri Apresiasi
  • Wamen Viva Yoga: Membangun Kawasan Transmigrasi Berbasis Ilmu dan Teknologi
    JAKARTA – Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengakui program… Read more: Wamen Viva Yoga: Membangun Kawasan Transmigrasi Berbasis Ilmu dan Teknologi

Pages

Contact

Phone

+342348343

+348796543

Email

hi@blogsy.com

support@blogsy.com

Location

New York, USA

Copyright 2026 — Tatar Sunda News. All rights reserved. Blogsy WordPress Theme