Viral, Jadi Sorotan Bupati Dadang Supriatna Masuk Got Irigasi Demi Atasi Banjir

CIPARAY, KAB. BANDUNG — Suasana haru dan rasa kekeluargaan yang mendalam menyelimuti warga Kabupaten Bandung. Di tengah kecemasan akan datangnya ancaman bencana banjir yang sewaktu-waktu dapat merenggut senyuman anak-anak serta harta benda warga, sebuah pemandangan luar biasa menyita perhatian publik dan menyentuh lubuk hati paling dalam.
Sosok pemimpin nomor satu di Kabupaten Bandung, Bupati Dadang Supriatna, tertangkap kamera tanpa ragu menceburkan diri ke dalam got irigasi yang keruh dan dipenuhi lumpur. Tanpa sedikit pun rasa cemas akan pakaian dinasnya yang kotor, ia berjongkok di antara himpitan saluran air. Kehadirannya di sana semata-mata untuk memastikan aliran air tetap lancar dan masyarakatnya selamat dari terjangan air bah. Aksi turun tangan secara langsung ini sontak membuat warga yang menyaksikannya tertegun. Tak sedikit yang menitikkan air mata, terharu menyaksikan ketulusan seorang pemimpin yang bekerja dengan segenap hati, bertempat di Desa Ciheulang, Kecamatan Ciparay, Kamis (10/9/2026).
Kunjungan penuh makna tersebut turut dihadiri oleh Ketua Komisi C Anggota DPRD Kabupaten Bandung Tarya Witarsa, Forkopimcam Ciparay, Ketua Pentahelix, Kepala Desa Ciheulang, Kepala Desa Pakutandang, Tokoh masyarakat, serta warga setempat yang menyambut kedatangan rombongan Bupati Bandung dengan antusiasme tinggi. Di balik aksi heroik tersebut, perjuangan sang bupati untuk menuntaskan permasalahan menahun ini dilakukan dengan dedikasi yang tanpa batas.
Bupati Dadang Supriatna menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Bandung bergerak cepat dengan mengusulkan anggaran fantastis mencapai 947 miliar rupiah untuk penataan seluruh Daerah Irigasi (DI) di Kabupaten Bandung. Proyeksi kucuran dana pada tahun ini sendiri mencapai 334 miliar rupiah demi memastikan pembangunan berjalan tanpa kendala berarti.
Sebanyak 547 Daerah Irigasi, khususnya di wilayah strategis seperti Ciasihan, kini ditetapkan sebagai prioritas utama penanganan untuk memberikan rasa aman yang utuh bagi masyarakat. Pemerintah juga memastikan tidak ada tumpang tindih antara program Pentahelix dan program daerah irigasi gagasan Presiden. Guna mewujudkan hal tersebut, Ketua Komisi C dijadwalkan segera memanggil pihak BWS, DPUTR, serta tim Pentahelix untuk menyatukan visi dan langkah nyata bersama.
Sementara itu, program Pentahelix yang membutuhkan dukungan anggaran sekitar 3 miliar rupiah (non-APBD) kini terus didorong dan telah sukses berjalan di 16 kecamatan di Kabupaten Bandung. Lewat kerja nyata, keringat, dan tetesan air mata perjuangan yang menyatu di lumpur irigasi, secercah harapan kini hadir menyapa warga Kabupaten Bandung. Pemerintah optimis, melalui semangat gotong royong dan ketulusan pemimpin yang mau turun langsung ke akar rumput, bencana banjir perlahan-lahan akan menjadi kenangan masa lalu.
Sinergi dan Rencana Aksi Nyata di Kecamatan Ciparay
Sebelumnya, Forkopimcam Ciparay bersama Tim Panitia Pentahelix Kecamatan Ciparay telah bergotong royong merencanakan aksi pengerjaan normalisasi saluran irigasi Cigugur di Jalan Raya Laswi, Desa Ciheulang.
Camat Ciparay Anjar Lugiyana bersama Ketua Pentahelix Kecamatan Ciparay H. Deden Suwandi mengungkapkan bahwa rencana aksi normalisasi Sungai Cigugur ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (12/9/2026) atau dalam waktu dekat.
“Normalisasi saluran irigasi Cigugur ini merupakan salah satu dari lima rencana aksi yang menjadi target sasaran program kerja Tim Pentahelix Kecamatan Ciparay,” ujar Camat Anjar, yang disambut anggukan setuju oleh Deden Suwandi di Rumah Dinas Camat Ciparay, Rabu (9/9/2026) malam.
Camat Anjar merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Bupati Bandung, kehadirannya merupakan motipasi bagi tim, ia juga menjelaskan bahwa pengerjaan normalisasi Sungai Cigugur ini bertujuan untuk membangun kebersamaan serta mempererat tali persaudaraan di antara masyarakat maupun berbagai unsur yang ada di Kecamatan Ciparay.
“Fokus pertama Tim Pentahelix adalah melakukan akselerasi pada saluran irigasi Cigugur Desa Ciheulang di depan RSMBS (Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung Selatan) Jalan Raya Laswi. Lokasi tersebut menjadi prioritas utama karena kerap meluap dan memicu banjir saat musim penghujan,” tuturnya.
Sebelum program ini dieksekusi, pihak kecamatan telah menampung berbagai aspirasi masyarakat serta melakukan kajian mendalam di titik-titik krusial. Jalur tersebut diketahui merupakan jalan provinsi yang sangat vital, menghubungkan mobilitas masyarakat dari Majalaya, Ibun, Paseh, hingga sebaliknya menuju arah Bandung, Garut, Kertasari, dan Pacet.
Selain normalisasi Sungai Cigugur, Tim Pentahelix juga memfokuskan perhatian pada penataan drainase jalan raya di Desa Pakutandang yang sering mengalami banjir cileuncang saat hujan deras turun.
“Program pentahelix ini melibatkan para akademisi untuk melakukan kajian teknis secara komprehensif. Pengerjaannya nanti akan dikombinasikan, ada yang menggunakan alat berat backhoe, dan ada pula yang dikerjakan secara manual dengan melibatkan partisipasi aktif warga sekitar,” ungkap Camat Anjar.
Sementara itu, Ketua Tim Pentahelix Kecamatan Ciparay, H. Deden Suwandi, menuturkan bahwa program ini merupakan wujud nyata kepedulian masyarakat terhadap penataan lingkungan yang berkelanjutan.
“Harapannya sederhana namun berarti besar: kawasan yang dulunya langganan banjir kini menjadi bebas banjir. Program pentahelix ini hadir untuk menumbuhkan dan merawat kembali rasa kepedulian kita bersama,” katanya.
Deden menambahkan, program pentahelix ini dirancang dalam kerangka jangka panjang. Bidang garapannya tidak hanya sebatas normalisasi sungai atau penataan drainase, melainkan mencakup penanganan Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni), penanganan stunting, pengelolaan sampah, pemberdayaan masyarakat, hingga penyediaan insinerator atau mesin pembakaran sampah demi kebersihan lingkungan yang lebih baik di masa depan. (Atepku)