Karet Indonesia Merosot ke Peringkat Tiga Dunia, Wamen Viva Yoga Tegaskan Komitmen Selamatkan Petani

KALIBATA — Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, menyambut terbuka aspirasi dari para petani dan pengusaha karet yang tergabung dalam delegasi Apkarindo, Dekarindo, APBI, dan Gapkindo di Gedung Makarti, Kantor Kementerian Transmigrasi, Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Dalam pertemuan tersebut, para pelaku industri menyampaikan keprihatinannya atas penurunan posisi Indonesia sebagai produsen karet nomor satu dunia yang kini merosot ke peringkat ketiga, kalah dari Thailand dan Pantai Gading. Kurangnya perhatian pemerintah, tidak adanya peremajaan (replanting) tanaman, serta minimnya sosialisasi mengenai potensi besar karet—mulai dari bahan baku ban berkualitas, biodiesel, hingga pasar karbon—membuat banyak petani beralih ke komoditas lain.
Menanggapi hal tersebut, Viva Yoga menegaskan bahwa komoditas karet menjadi perhatian serius Kementrans karena melibatkan jutaan jiwa, termasuk para transmigran di 19 kawasan transmigrasi utama di Sumatera dan Kalimantan. Guna mengatasi krisis ini, ia mendorong langkah-langkah prioritas strategis, meliputi:
- Revitalisasi dari Hulu: Pendataan menyeluruh terkait jumlah petani, usia petani, serta usia pohon karet untuk mendukung proses peremajaan (replanting).
- Pembentukan Badan Khusus: Diperlukannya lembaga khusus yang mengurus perkaretan nasional secara terpadu.
- Sinergi Lintas Sektor: Kementrans siap berkolaborasi dengan kementerian dan instansi terkait untuk mendongkrak produktivitas serta menyalurkan bantuan pemerintah secara tepat sasaran.
Viva Yoga juga mendorong Apkarindo untuk memperkuat konsolidasi kelembagaan dan aktif menyosialisasikan ragam manfaat pohon karet agar masyarakat kembali antusias menggeluti sektor perkebunan strategis ini. (Atepku)